Monday, September 12, 2016

Catatan Perjalanan Ke Pantai Goa Cina

12:47 AM


Oleh: Muhammad Hilal

Perjalanan ke Pantai Goa Cina bukan perkara sulit. Di antara empat orang peserta, salah satunya sudah pernah mendatanginya. Lalu tinggal merembukkan logistik.

Oleh karena berangkatnya jam 10 malam, maka rutenya ke Pasar Gadang dahulu untuk beli ikan. Pesan pak bakul ikan, bakar-bakar itu lebih enak ikan air laut. Nah, ini tip bagus bagi yang berencana mau bakar ikan. Tongkol sekilogram dan sekilogram lagi entah ikan apa kami borong malam itu.

Perihal peralatan bakar-bakar, seperti kayu, arang, bumbu, panci, kayu bakar, dan lain-lain, salah satu peserta sudah menyiapkannya. Tugas saya cuma membawa setermos kopi dan karpet. Bukan tugas berat, saya sudah siap sedia.

Teman lain bahkan sudah menyiapkan berbagai alat elektronik: kamera DSLR lengkap dengan tripodnya, senter, dan Power Bank. Ini rupanya sudah well prepared semua.

Dengan demikian, keberangkatan ke Pantai Goa Cina terasa enteng-enteng saja, sebab semua sudah siap sedia. Bahkan sebelum berangkatpun, saya sudah bisa menerka bahwa acara bakar ikan ini akan lancar saja.

Kami berangkat ke tujuan melalui jalur Bantur. Itu didasarkan pada anjuran Global Positioning system (GPS) otomatis dari gawai. Menurut suara yang berbicara di gawai, jalur Bantur adalah jalur yang tercepat, lebih cepat ketimbang jalur Gedangan atau jalur Sumbermanjing Wetan. Sungguh fasilitas GPS adalah kemudahan yang patut disyukuri, namun kini saya sadar akurasinya perlu ditinjau ulang.

Dan kami kena batunya juga. Akibat taklid buta kepada fasilitas GPS, perjalanan itu ternyata memakan waktu lebih lama. Di Bantur, sebelum kami mencapai jalan Lintas Selatan, suara di GPS menganjurkan kami mengambil jalur terabasan. Ketika memasuki jalan terabasan, suara itu berkata melenakan, "Anda memasuki jalur tercepat."

Awalnya kami tentu senang bahwa ternyata ada jalur tercepat ke jalan Lintas Selatan. Tapi, lama kelamaan, sinyal ponsel menipis, dan akurasi GPS jadi aneh. Jalan itu kecil dan sepi, berkelok-kelok naik-turun, kendati aspalnya halus. Suasana mulai agak horor. Mulai timbul waswas di benak masing-masing, apa betul ini adalah jalur terabasan ke jalan Lintas Selatan.

Suasana horor semakin menjadi-jadi ketika kami mencapai jalan yang aspalnya rusak, bahkan berbatu. Mobil yang kami tumpangi jadi tak bisa melaju cepat. Jika sebelumnya kami selalu tertawa dan melempar lelucon, kini semuanya jadi terasa tidak lucu. GPS durjana itu ternyata mengibuli. Ketakpastian semakin menghantui.

Suasana kikuk itu akhirnya berakhir setelah kami berhasil mencapai jalan Lintas Selatan yang lebar dan halus. Kami pun berhasil mengembalikan selera humor kami. Kami sudah bisa tertawa lebih lepas dan tanpa beban.

Fasilitas GPS juga masih tak terpakai, sebab sinyal ponsel masih tak tersedia. Namun apa guna mengharap bantuan GPS yang berlaku layaknya Kabil? Kami sudah tak keberatan fasilitas itu tidak terpakai. Kami mengandalkan papan penunjuk arah saja.

Di atas jalan Lintas Selatan, mobil kami melaju cepat dan tanpa hambatan. Sambil mengamati papan penunjuk arah yang rupanya belum tertata baik, kami terus ke arah timur. Hingga akhirnya, di bagian kanan jalan terdapat gapura bergaya tiongkok. Tak diragukan lagi, itulah jalan masuk ke Pantai Goa Cina.

Memasuki area pantai, susana sangat sepi. Toko-toko tutup, pos penjagaan hanya terisi dua-tiga orang. Lampu penerang pun sangat terbatas, bisa dipastikan di bibir pantai akan sangat gelap sekali. Mobil kami parkir di pinggir pagar, tepat di bawah lampu penerang.

Jam menunjukkan pukul 12 lebih. Luar biasa, perjalanan itu ditempuh selama dua jam lebih. Terlalu lama, akibat jalur terabasan "tercepat" dan fasilitas GPS tak akurat.

***

Mencari lokasi bakar-bakar di sekitar pantai tidaklah sulit amat. Selain karena di tempat itu sangat sepi pengunjung, hamparan pasirnya pun cukup luas. Di atas pasir, banyak sekali semak-semak lebat.
Oleh sebab hembusan angin cukup kuat, kami memilih tempat di lokasi yang dikelilingi semak lebat. Barang-barang keperluan kami angkut dari mobil ke lokasi itu.

Tempat itu pun kami tata. Kami mengumpulkan batu untuk dibuat tungku, pasir kami gali sedikit agar ada ruang lebih besar untuk kayu bakar dan arang.

Penerang dari senter dan lampu ponsel cukup membantu kegiatan itu. Hanya di tempat yang disorot peneranglah yang bisa kami lihat, sisanya gelap gulita. Hanya desir angin pesisir dan suara debur ombak yang terasa jelas di indera kami.

Ikan yang kami bawa dibersihkan isi perutnya dengan air galon. Tidak mungkin kami mencucinya dengan air laut, sebab bibir pantai betul-betul gelap. Jangankan mendatanginya, melihatnya saja kami sudah keder. Imajinasi kami melarang kami terlalu dekat ke bibir pantai.

Termasuk pula beras, kami pun mencucinya dengan air galon. Irit menjadi nilai yang sangat berharga saat itu, sebab air itu juga sangat dibutuhkan untuk minum.

Setelah nasi sudah matang, kami mulai mengolah rempah-rempah untuk membumbui ikan. Dengan tungku batu itu, kami menggoreng bumbu yang bahan-bahannya tidak saya tahu apa. Salah seorang peserta kami pasrahkan melakukannya, sebab dia memang paling pengalaman memasak.

Bumbu itu dioleskan ke ikan sebelum dibakar. Dan bumbu itu cukup berhasil, aroma ikan ketika dibakar sangat menggoda iman dan lidah. Harum sekali. Entah dapat resep dari mana teman satu itu, padahal dia hanya alumnus pesantren Ploso dan Lirboyo, jelas kualifikasinya bukan di bidang tataboga. Dalam hal masak-memasak, dia memanglah tipikal learner by doing, orang yang mahir karena suka melakukan berulang-ulang.

Saat ikan bakar pertama sudah matang, kami mencicipi hasil kerja kami. Rasanya luar biasa sekali. Daging ikan bercampur dengan bumbu, diiringi kecap manis, rasanya benar-benar nendang di lidah.
Aroma ikan bakar, hembusan angin pesisir dan debur ombak di kegelapan sana adalah citarasa Pantai Goa Cina saat itu. Terutama suara ombak, saat berbenturan dengan batu, kadang terdengar seperti benturan benda padat, tak ubahnya seperti suara tabrakan mobil. Kesan magis mengenai adidayanya kekuatan alam sangat kentara saat itu.

Saat ikan tersisa dua ekor untuk dibakar, kami sudah tidak sabar. Ingin rasanya lekas-lekas menyantapnya dengan nasi dan sambal kecap. Kipasan kami mulai tidak teratur, terganggu oleh godaan ikan bakar matang di sebelah. Konsentrasi agak buyar.

***

Kini, tibalah waktu untuk menyantap makanan: nasi, 2 kilogram ikan bakar, dan sambal kecap. Porsi nasi dan ikan bakar tidak seimbang, ikannya jauh lebih banyak. Umpama tidak ada nasipun, 2 kilogram ikan bakar rasanya sudah bisa bikin kenyang.

Nikmat makanan itu rupanya makin terasa kalau kita membuatnya sendiri. Berjam-jam berjibaku mematangkannya, menyantap hasilnya mampu memunculkan rasa puas tersendiri, seolah ada hutang yang tertunaikan. Ikan bakar itu terasa maknyus sekali di lidah.

Momen itu, momen kudus menyantap hasil kerja tangan sendiri, memang berlangsung singkat. Hampir rampung ikan 2 kilogram itu dituntaskan, gerimis pertanda hujan mengguyur. Singkat, namun cacing-cacing di perut sudah terpuaskan, padahal masih ada 2 ekor ikan utuh belum tersantap.

Kami berlarian ke tempat berteduh, menyelamatkan alat elektronik dari hujan. Semua alat masak ditinggal di atas pasir. Saat itu benar-benar sepi pengunjung, alat masak rasanya tidak persoalan dibiarkan di situ. Yang penting, kamera dan ponsel berhasil terselamatkan dari hujan.

Kami berteduh di sebuah pos penjagaan, di situ ada empat kursi panjang. Pas sekali dengan jumlah kami. Terasa sekali perut ini kekenyangan. Luar biasa. Godaan ikan bakar lezat membuyarkan konsep kami tentang kenyang, sehingga takaran santapan melebihi batas wajar. Sembari menghisap sigaret, kami duduk di situ, juga mendengarkan kesiur angin kencang menghantam rintik hujan.

Kami lupa, ada dua ikan bakar yang masih tertinggal di tempat semula, kehujanan.

***

Hujan berhenti ketika hari sudah terang. Sehabis membereskan barang yang masih tertinggal di atas pasir ke dalam mobil, kami bermain di bibir pantai. Ini juga momen yang tak kalah kudus.

Bibir pantai di waktu pagi mempertontonkan suasana yang berbeda. Bila tadi malam bibir pantai adalah tempat yang menakutkan dan berperawakan sangar, pagi ini bibir pantai adalah keindahan yang menggoda untuk didekati.

Saat itu sepi pengunjung, hanya terlihat dua kelompok orang melakukan swafoto dan berpose bersama. Sisanya hanya kami berempat. Di depan bibir pantai tampak sebuah batu karang besar berdiri kokoh menantang ombak besar. Di atas batu karang itu, terlihat sebuah pelangi seolah sedang menunduk meminum air laut. Pemandangan alami itu sangat bagus.

Pasir di sana sangat putih, membentang sepanjang bibir pantai, diapit dua batu karang besar di dua ujungnya. Anda bisa berlari-lari, mengambil foto, pose bersama, tidur-tiduran di bawah mentari pagi, menulis nama pujaan hati di atas pasir atau berenang.


Namun, sama seperti kebanyakan pantai yang pernah saya kunjungi, sampah adalah perusak utama keindahan kudus itu.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top