Thursday, June 11, 2015

Laporan Akhir Periode Amanah Online

7:57 PM

[sumber]

Oleh: Muhammad Hilal

Saya lupa, kapan tepatnya hari kelahiran blog Amanah Online ini. Ya sudah, itu tidak penting. Kapanpun itu, anggaplah tulisan ini sebagai laporan tahunan yang bertepatan dengan hari kelahirannya. Semacam kado ulang tahunlah.

Oleh sebab yang sedang ulang tahun adalah sebuah blog, maka kadonya berupa semacam laporan-laporan. Laporannya pun akan dikemas dengan sederhana, biar ada nuansanya.

Saya ingat, gagasan membikin blog ini tercetus saat kami sedang ngopi bareng. Saat itu, sepertinya pas buka puasa bareng, Gufron AM usul di hadapan kami untuk membuat terbitan majalah atau bulletin seperti waktu mereka di pondok dulu.

Saya berpikir, rasanya akan sulit kalau harus bikin majalah atau bulletin. Maksud saya, letak kesulitannya bukan di saat mau mencari tulisan, sebab saya yakin mereka semua adalah orang-orang yang jago menulis. Saya tidak ragu itu. Hanya saja, majalah atau bulletin yang akan diterbitkan nanti akan sulit bisa terbit secara berkala dan konsisten. Pikiran ini berdasarkan pengalaman dan hasil pengamatan.

Pengalaman yang dimaksud adalah saat saya menjadi Pemimpin Umum di sebuah majalah di kampus. Bukan main, menerbitkannya sulit minta ampun. Padahal biaya sudah ditanggung kampus, beberapa fasilitas seperti komputer, alat perekam, co-card, dll. juga sudah dikasih, tapi masih saja sulit mengorganisir beberapa orang untuk menerbitkan majalah.

Karena itu, saya menaruh rasa hormat sangat dalam pada mereka, terutama anak-anak muda, yang berusaha menerbitkan majalah atau bulletin. Meskipun bulletin yang mereka terbitkan terlihat menggunakan standar minimal, baik dari segi isi tulisan maupun tata letak, tapi saya sadar bahwa itu adalah hasil kerja ekstra mereka. Menghadapi anak muda yang seperti itu, saya selalu angkat topi secara imajiner.

Saya juga melihat di tempat lain orang-orang yang berusaha menerbitkan majalah. Persoalan yang dialami juga mirip. Persoalan yang dihadapi bukan ketersediaan fasilitas, tapi SDM yang memangku tugas penerbitan itu tidak memadai, entah dari segi pengalaman, wawasan, keterampilan, jaringan, visi-misi, semuanya atau sebagiannya minim. Akhirnya, majalah yang mereka terbitkan tidak bertahan lama.

Nah, secara objektif, kondisi teman-teman yang ngopi saat itu tidak jauh berbeda. Jadi, saya tidak langsung mengiyakan usulan Gufron waktu itu.

Di sisi lain, juga harus saya akui bahwa usulan itu bagus sekali. Usulan Gufron itu revolusioner. Jadi sayang rasanya kalau usulan itu harus saya tolak.

Karena itu saya usulkan agar medianya jangan berbentuk majalah atau bulletin. Alasannya jelas, majalah atau buletin cetak itu butuh biaya. Selain itu, media cetak juga harus didistribusikan secara manual. Jadi kita perlu manajemen lain selain keredaksian. Padahal, pada saat yang sama, kita masih perlu memperbaharui (upgrade) pengalaman, wawasan, keterampilan juga jaringan. Jadi terlalu menguras energi. Belum lagi kita harus mengurusi kesibukan kita masing-masing sebagai mahasiswa.

Saya usulkan waktu itu, medianya berupa majalah atau bulletin elektronik saja. Keuntungannya banyak sekali. Hal-hal yang terasa sulit di media cetak, bisa menjadi sangat mudah di media elektronik. Teman-teman waktu itu setuju. Maka, lahirlah blog Amanah Online ini.

Rohim Warisi yang multitalented langsung ambil alih pengolahan tata letaknya. Kita tak pernah tahu, kapan dan dari mana dia punya kemampuan itu. Tapi, mau dipercayakan ke siapa lagi?

Beda-beda Karakter.
Blog ini punya kontributor yang lumayan banyak lho. Jumlah ini, berikut kemampuan masing-masing, sudah lebih dari cukup untuk bisa dibilang keren. Modal blog ini memadai untuk bersikap optimis bahwa blog ini akan bertahan hingga entah kapan.

Dari semua tulisan yang ada di blog ini, kebanyakan kontributor rupanya lebih suka menulis di rubrik opini. Jumlahnya 84 buah. Selanjutnya, tentu saja, banyak yang suka sastra (35 buah). 9 buah tulisan berupa resensi.

Yang mengejutkan, dari tiga rubrik sastra, kebanyakan kontributor blog ini lebih suka menulis cerpen ketimbang yang lainnya. Cerpen di blog ini berjumlah 29 buah, puisi 14 buah, dan belum ada yang mau menulis dialog drama.

Di antara semua kontributor, yang paling rajin menulis di blog ini adalah Irham Thoriq. Wartawan Radar Malang ini telah menyumbangkan tulisan sebanyak 18 tulisan. Semuanya berupa esai. Style-nya adalah reflektif. Tampaknya, kekagumannya kepada GM mempengaruhi gaya tulisannya. Kita tentu berharap agar tulisannnya terus terbit di blog ini.

Itu di rubrik opini. Beda lagi kalau di rubrik sastra. Halimah Garnasih merupakan penyumbang terbanyak untuk genre tulisan ini. Dari 14 tulisan yang sudah  terbit, 11 di antaranya adalah sastra, baik cerpen maupun puisi. Kebanyakan tulisannya mengangkat isu gender dan relasi lintas iman. Tidak diragukan lagi, Halimah memang aktivis di dua bidang itu.

Kontributor lain yang layak diapresiasi karena sumbangan tulisannya yang banyak di blog ini adalah Muhammad Madarik. Kiai muda ini telah menerbitkan 9 tulisannya di sini. Dua di antaranya berupa opini, sisanya adalah cerpen. Yang menarik, konsistensinya untuk menulis cerpen menunjukkan bahwa sastra telah menjadi medianya untuk menyampaikan suatu pesan. Tampaknya, sudah lama tulisannya tidak terbit lagi. Kita layak menunggu cerpen barunya akan terbit nanti.

Lalu Rohim Warisi, si cerpenis absurd dan surrealis. Pada awalnya, Rohim menulis cerpen realis nan melankolis, namun semakin ke belakang cerpennya makin absurd. Gaya bertuturnya liris. Jelas, kekagumannya kepada penulis novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu memengaruhinya sangat mendalam. Sudah lama dia tidak nongol di blog ini. Semoga absurditas masih menjadi gaya tulisan dan gaya hidupnya. Semoga tulisannya bisa terlihat lagi dalam waktu dekat.

Muhammad Mahrus dan Gufron AM adalah penggagas utama lahirnya blog ini. Dwitunggal ini tentu punya tanggung jawab moral untuk berkontribusi di blog ini. Dengan demikian, kita bisa melihat Gufron AM telah menyumbangkan tulisan sebanyak 4 buah dan Muhammad Mahrus sebanyak 7 buah. Tanggung jawab moral itu akan terus mereka pikul selama blog ini masih ada di dunia.

Taufik dan Dhofir juga kontributor yang tidak bisa diabaikan. Yang pertama telah menyumbangkan 3 buah tulisan yang bagus, semuanya tentang tafsir Alquran; kita tahu, dia memang spesialis di bidang satu ini. Adapun Dhofir telah menerbitkan 4 buah tulisan. Beberapa di antaranya adalah tentang linguistik, sebuah bidang yang sedang dia geluti saat ini.

Abdul Rahman Wahid punya perkembangan yang sangat pesat di bidang kepenulisan. Tampaknya itu berkat komunitasnya yang kondusif untuk mengembangkannya. Di blog ini, kontribusinya sebanyak 9 buah; jumlah yang amat sedikit dibandingkan produktivitasnya menulis di media-media lain.

Yang istimewa adalah Imron Hakiki, salah satu kontributor kita yang beda dari yang lain. Dia punya keahlian bikin sketsa—saking jagonya bahkan bisa membikin gadis-gadis kesemsem padanya. Blog ini beruntung karena beberapa karyanya dia izinkan untuk terbit di sini.

Kita tentu tidak bisa melupakan Muhammad Ilyas. Tulisan-tulisannya menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Minat kajiannya pun beragam. Seiring perjalanan waktu, tidak diragukan lagi bahwa Ilyas akan menemukan gayanya yang khas. Singkat kata, dia berada di jalur yang tepat, on the right track.

Kontributor lainnya masih banyak. Rasanya, laporannya cukup di sini saja. Capek kalau harus mengurai satu per satu.

Baru Memulai.
Sudah berapa lama blog ini bertahan? Sudah tiga tahun. Sudah berapa tulisan yang sudah terbit? Cuma 146 tulisan. Rasio jumlah tulisan dan umur blog jomplang sekali. Reratanya cuma 3 tulisan per bulan. Bisa dibilang, kita ini pemalas sekali untuk menulis.

Maksud saya, kita malas menulis di blog ini, tapi tidak di media lain. Saya yakin itu.

Sejauh amatan saya, para kontributor blog ini tak bisa direduksi hanya pada blog ini saja tingkat kreativitasnya. Saya tahu, mereka bergiat dan berkreasi di banyak sekali media. Jangan dihitung di Facebook dan di Twitter. Tulisan mereka di media sosial sudah melebihi buku super tebal dan multi disipliner pula tulisannya.

Dengan kata lain, tujuan dilahirkannya blog ini sebetulnya sudah terpenuhi. Dalam benak saya, tujuannya sederhana sekali: para kontributor menggunakannya untuk tujuan yang paling permulaan. Paling permulaan, dalam benak saya, dimaksudkan sebagai tujuan yang paling sederhana dan remeh-temeh dari sebuah media. Bisa jadi untuk belajar dan membiasakan menulis. Bisa pula sebagai alat penyimpan arsip karya pribadi—semacam buku harian. Tidak ada salahnya juga blog ini dibikin sekadar alat curahan hati. Sesederhana itu sebetulnya.

Singkat kata, sebetulnya blog ini belum beranjak terlalu jauh sebagai sebuah media. kita masih berdiri di level yang paling bawah dalam hierarki sepak terjang sebuah media. Ibarat pertandingan final Liga Champions baru-baru ini, kita adalah Barcelona FC di babak pertama yang belum mengerahkan permainan yang sebetulnya.

Tapi ini bukan ekspresi berkecil hati. Kekuatannya sebagai sebuah media sebetulnya sangat besar. Kita bisa naik level. Dan itu bisa dimulai dari sekarang. Amanah Online ini bisa kita jadikan apapun semau kita, asalkan naik level.

Namanya saja media, kita bisa menjadikannya sebagai alat untuk mempromosikan gagasan-gagasan. Semacam alat propagandalah. Di semua kelompok kepentingan, selalu ada alat yang demikian. Dan itu wajar saja. Bahkan bisa jadi mulia. Nah, blog ini berpotensi bertransformasi demikian.

Blog ini juga bisa menjadi alat pengeruk pundi-pundi harta karun melalui iklan. Persyaratannya pun sederhana: tinggal menyulapnya agar sesuai standar SEO yang tidak begitu ribet itu. Apalagi kita punya modal sosial yang memadai. Modal sosial itu maksudnya ya kita-kita, para kontributor yang sudah ada ini.

Sembari naik level, kita harus menjaring orang-orang yang lebih banyak agar menjadi bagian dari kita. Itu mutlak diperlukan. Dan ini pun tidak sulit-sulit amat.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top