Friday, May 16, 2014

Kuasa Kleptokrasi

3:03 PM






Oleh: A. Athok Lukman Hakim

Salah satu persoalan yang membuat hidup jadi pelik adalah jika sesuatu berperan tidak sesuai fungsinya. Anda bisa bayangkan jika kambing dipaksa untuk diperankan menjadi sapi, dibuat membajak sawah. Atau sabit Anda perankan menjadi gergaji mesin untuk memotong kayu. Kualitas sebuah pekerjaan harus sebanding lurus dengan kualitas intrumen atau subyek pelakunya.

The righ man in the righ place, sebuah adagium tentang keterkaitan suksesnya pekerjan dengan kualitas subyek pelakunya. Perahu yang baik akan maksimal fungsinya jika dia berada di sungai besar atau di laut. Dia akan kehilangan “tuah”-nya andai berada di padang pasir. Celana dalam akan kehilangan eksotismenya jika berada di kepala kita. Dan betapa lucunya jika kondom Anda jadikan bungkus koleksi HP.

Namun jika pelanggaran estetika yang merusak norma-norma nilai guna ini menyebar dan meluas maka pada gilirannya melahirkan tata nilai sosial baru yang dahsyat. Bisa Anda imajinasikan jika tiba-tiba muncul tata nilai baru yang menyatakan celana dalam memang untuk penutup kepala, jika Anda konservatif yang istiqomah meletakkan celana dalam untuk melindungi organ vitalnya kemudian ditertawakan, dicap kolot, udik, sok dan mungkin stigma-stigma yang lebih buruk akan deras mengaliri diri Anda.

Pejungkirbalikan tata nilai baru inilah yang hari ini terjadi di negeri ini. Anda mungkin masih ingat Siami, Ibu dari Alif, siswa SD Gadel, yang menjadi common enemy karena mempertahankan nilai kejujuran. Adalah aneh bin ajaib negeri yang mengaku memunyai budaya adiluhung tiba-tiba menjadi musuh kejujuran. Wa Ode Nurhayati, anggota F-PAN yang mengungkap mafia anggaran di DPR mendapat serangan balik dari teman-temannya sendiri sesama anggota dewan yang terusik kepentingannya atas nilai kejujuran yang ia nyatakan.

Penjungkiran nilai-nilai ini sudah menyebar luas dan tak luput juga menyerang konsep Ulama. Ulama yang pada awalnya adalah konsep Qurani untuk sebuah kualitas ketakwaan dan kecendekiawan terbirokrasi menjadi MUI yang direkrut secara sembarang dan ditumpangi berbagai hal termasuk birokrasi dan kekuasaan. MUI akhirnya tidak mempunyai kejelasan representasi keulamaannya maupun keislamannya. Sederhananya, apakah representasi ulama MUI sama dengan dengan Ulama di kata Nahdlatul Ulama, kata dari kata Partai Kebagkitan Ulama. Apakah Islam diusung sama dengan Islam-nya ICMI, PII, HMI atau PMII. Menjadi lucu ketika MUI tiba-tiba mengharamkan BBM subsidi tanpa melihat hulu persoalan kebijakan energi yang menjadi pokok utama. Kesan menjadi stempel kebijakan penguasa kemudian tidak dapat dihindari.

***

Biar menemukan signifikansi dan relevansi pembahasan di atas saya akan mengkontekstualisasikan pembicaraan ini di “dunia” saya yang nota bene sebagai bagian dari aparat pemerintah dan abdi negara, entah pegawai, guru, pejabat, penghulu dan lain sebagainya. Pertanyaanya bukan lagi apakah penjungkarbalikan nilai itu terjadi, akan tetapi bagamaina dan keapa hal itu terjadi? Pertanyaan ini memang bernada sarkastik tetapi bukan tanpa basis fakta. Jika masih diperlukan bukti, mari kita tengok realitas guru kita yang mengalami pendangkalan nilai, dari derajat yang tinggi sebagai pahlawan, penerus, dan pewaris kebudayaan, hanya menjadi buruh mengajar. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut untuk mengerti hal tersebut, sebab penyimpangan lembaga pendidikan termasuk guru sudah amat mencolok di depan mata kita.

Negara yang dalam konstitusi kita hadir untuk menegakkan keadilan sosial dan tegaknya nilai-nilai kemanusia di dunia sudah banyak dijungkirbalikkan tata nilainya hanya sebatas kleptokrasi. Sederhananya kleptokrasi adalah pembajakan negara untuk menjarah, memperkaya diri sendiri dengan cara merampok dengan legal atau memosisikan sebagai makelar dalam pelayanan pada masyarakat.

Negara ini terancam mengabdikan dirinya hanya pada “Pasar”. Logika pasar tentu adalah untung-rugi, siapa yang punya modal besar dialah yang dapat mewarnai negara. Kalau kita sedikit merenung, betapa negeri ini begitu tersandera dengan “pasar” dan “modal” ini. Secara teoritis political society dan economical society bagai saudara kembar yang pada gilirannya menghancurkan tidak hanya tatanan politik kenegaraan saja akan tetapi nilai-nilai sosial dan kultural masyarakat.

Untuk menghindari pembahasan yang terlalu teoritis yang memaksa mengenyitkan dahi, mari tanpa saya harus memaparkan fakta yang terjadi di lembaga kita, baik di KUA, Madrasah, dan lainnya, saya yakin pembaca dapat dengan cepat mengambil kesimpulan apakah nalar kleptokratif masih ada. Masihkah nalar makelar untuk memperkaya diri sendiri dalam pelayanan publik masih menjadi mainstream kita. Jawabanya saya serahkan pada pembaca semua.

Kemudian masih adakah prinsip meritokrasi dan rigt man in the right place di lembaga-lembaga ini? Jika tidak, ibarat sekolah yang alih-alih mencerdaskan, justru banyak mematikan kreativitas murid-muridnya, lembaga kita ini mematikan manusia-manusia potensial yang harusnya dapat mengabdikan dirinya secara maksimal pada negara. Adakah lembaga kita memperlakukan aparatnya seperti Siami atau Wa Ode Nurhayati yang menyuarakan kebenaran? Lagi-lagi saya tidak perlu membantu Anda untuk menjawabnya. saya yakin dengan cepat Anda dapat menemukan jawabannya.

Jika rumah sejak awal penuh anjing, babi, kotoran, najis, setan, sundel bolong, gendruwo, jin ifrit dan tidak ada yang berusaha melenyapkan, menyucikan serta membersihkannya, maka orang yang masuk akan melakukan beberapa kemungkinan. Pertama, dia beradaptasi dan kemudian pelan-pelan menjadi salah satu dari mereka. Kedua, pengap dan tidak betah hidup di antara makhluk-makhluk mengerikan yang memberikan rasa traumatik dalam keseluruhan hidupnya. Ketiga, pelan-pelan membersihkan rumah dari najis dan mencari teman untuk mengusir para setan, gendruwo, sundel bolong dan lainya. Tak perlu lagi penjelasan tentang analogi singkat di atas, saya sangat yakin bahkan haqqul yakin dalam benak pembaca timbul asosisi-asosiasi yang berkorelasi dengan pengalaman pembaca sendiri-sendiri.

Pembajakan makna negara menjadi kleptokrasi adalah pengkhiatan terbesar dalam sejarah sosial umat manusia. Penghambaan negara hanya pada nafsu-nafsu jalang kebinatangan manusia yang bertopeng baik teori-teori akademis atapun apapun namanya tetap tidak bisa menyembunyikan bau anyirnya.
Saya hanya mau mengajak merenung para pembaca dalam sajak berikut ini :

Biarkanlah matahari memberikan hangat sinarnya
Biarkanlah api mendayakan energi panasnya
Biarkan angin berhembus menembus ruang-ruang
Biarkan burung terbang kokoh bersama sayapnya

Untuk apa api jika kau taruh lautan?
Untuk apa matahari jika kau bersembunyi di balik punggung bumi?
Untuk apa lautan jika kau paksakan tidak bergelombang?
Untuk apa rajawali jika kau kebiri sayap-sayap kokohnya dan kuku-kukunya yang tajam?

Bagaimana mungkin kau kambingkan para singa?
Kau rajakan para budak? 
Kecuali kau memang sudah gila

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top