Monday, May 12, 2014

Kiat-kiat Menjadi Kaum Stoik di Masa Kini

4:11 PM


Oleh: Muhammad Hilal

Pengantar: Siapa itu kaum Stoik?
Kaum Stoik adalah para filsuf pasca Aristoteles yang menganut mazhab Stoisisme.  Mazhab ini didirikan oleh Zeno of Citium (332-262 SM.). Stoa adalah istilah Yunani yang berarti beranda atau koridor suatu bangunan. Oleh karena Zeno mengajarkan filsafatnya di koridor Poikile, Athena, maka para filsuf itu disebut kaum Stoik. 

Dalam kazanah Islam mereka disebut dengan Ar-Rawâqiyûn—rawâq adalah terjemahan harfiah dari Stoa. Disebut demikian karena Zeno mengajarkan filsafatnya di koridor Stoa Poikile

Para filsuf Stoik dikenal karena ajaran mereka tetang etika. Menurut mereka, keutamaan tertinggi itu adalah kesesuaian tingkah laku manusia dengan alam. Alam bergerak dalam ritme dan rangkaian yang teratur. Tugas manusia adalah menyesuaikan dirinya dengan ritme dan rangkaian itu. Dengan cara itu, kebahagiaan akan tercapai.


Namun bagaimana mempraktekkan ajaran mereka di masa kini? Berikut ini adalah sebagian kiat-kiatnya.

Kiat 1.
Hal terburuk apa yang akan terjadi?

Jika kamu pernah berpikir demikian, berarti kamu seorang Stoik—dalam kadar tertentu. Bertanya demikian sebelum melakukan sesuatu disebut “Visualisasi Negatif”, dan itu adalah salah satu alat kaum Stoik agar bertindak secara bijaksana.

Pertanyaan ini membantu kita bertindak hati-hati dan mempertimbangkan detil-detil dalam perencanaan. Dalam kebanyakan kasus, rasa khawatir dan takut akan hal buruk apa yang akan terjadi tidak terbukti benar.

Kaum Stoik menganjurkan agar kita membayangkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga, seperti sahabat atau keluarga. Menakutkan, memang. Tapi bayangan seperti itu membuat kita menghargai mereka lebih dari biasanya.

Membayangkan bahwa sesuatu yang saat ini kita punya dan sangat kita hargai tiba-tiba menghilang membuat kita berpikir betapa beruntungnya kita. Inilah kekuatan “bersyukur”! Sains telah membuktikan bahwa bersyukur adalah salah satu teknik terbaik menumbuhkan kebahagiaan.

Bersyukur berarti berpikir bahwa sesuatu terjadi tidak secara for granted. Bersyukur berarti tetap senang meskipun hal-hal yang dulu baru, sekarang mulai terasa membosankan. Bersyukur berarti tetap menikmati hidup.

Kiat 2.
Lakukan sebaliknya!

Kaum Stoik sangat menghargai ketenangan dan menganggap kemarahan hanya membuang-buang waktu.
Tapi apa yang harus kita lakukan saat darah kita sedang mendidih? Paksa dirimu tetap tersenyum dan pelankan suaramu.

Seneca (4 SM-65 M), salah satu filsuf Stoik, percaya bahwa jika kamu bertindak tenang maka kamu akan menjadi tenang. Ketika sedang marah, kata Seneca, ubahlah gejala-gejala kemarahan itu menjadi sebaliknya! Kita harus paksa wajah kita rileks, suara kita pelan dan langkah kaki kita tenang. Dengan sendirinya, suasana batin kita mengikut suasana lahir.

Sains sudah membuktikan hal ini. Para peneliti menemukan bahwa saat respondennya diminta tersenyum, mereka merasa lebih lega dan bahagia.

Kiat 3.
Menahan keinginan.

Kaum Stoik sengaja keluyuran di musim dingin tanpa menyandang mantel atau menghindari daging agar tetap merasa lapar. Kenapa?

Sebab menahan keinginan membuatmu bisa menghargai hal-hal yang selama ini kamu miliki. Kalau kamu tidak percaya, cobalah teknik ini. 

Jika kamu penggila kopi, cobalah untuk tahan beberapa hari tidak meminumnya. Sekali kamu meminumnya, kamu akan dapatkan bahwa kopi jauh lebih nikmat rasanya ketimbang jika kamu meminumnya setiap hari.
Tak ubahnya seperti orang berpuasa, seharian menahan lapar membuat makanan di hadapan kita menjadi lebih terasa nikmat. Inilah kekuatan teknik “menahan diri”.

Selain itu, jurus “menahan keinginan” bisa membuat kita menjadi lebih kuat meskipun menjalani hari tanpa sesuatu yang kita inginkan. “Menahan keinginan” merupakan jalan mengontrol diri.

Kiat 4.
Tersandung adalah hal biasa.

Oleh karena sadar betapa beratnya menjalani kehidupan a la kaum Stoik ini, Epictetus (55 SM-135 M.) berkata kepada para muridnya: maafkanlah dirimu sendiri!

Memaafkan diri sendiri berarti bersedia mengulang dari awal lagi ketika kita menghadapi kegagalan. Memaafkan diri sendiri berarti terus berusaha meskipun tersandung dan terjatuh. Teknik ini ampuh untuk mengondisikan diri agar tidak mudah menyerah.

Marcus Aurelius (121-180 M.) berkata, bahkan ketika kita tidak melakukan sesuatu dengan benar, kita telah melakukan sesuatu yang berguna untuk diri sendiri.

Inilah jalan kritik diri. Kritik diri adalah kesediaan untuk me-reset diri kita agar menjadi pribadi yang lebih baik. Semakin kita terlatih melakukan kritik diri setelah gagal melakukan sesuatu, semakin kita terlatih mengontrol diri sendiri, dan semakin pula kita mendekat kepada kebahagiaan.

Penutup.
Empat kiat menjadi kaum Stoik di atas hanyalah sebagian kecil dari banyak ajaran mereka. Untuk mendapatkan ulasan yang lebih lengkap perihal ajaran-ajaran mereka, saya anjurkan membaca bukunya William B. Irvine, A Guide to the Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy. Buku ini bisa diunduh di sini.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

1 komentar:

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top