Sunday, November 3, 2013

Kali Sira, Sebuah Catatan Perjalanan

10:50 AM

Oleh: Muhammad Hilal
repro: http://www.panoramio.com/photo/43328456
 
Pagi itu, pukul 5.30 WIB., saya keluarkan sepeda, gabung dengan dua pesepeda lain yang mau ekspedisi. Yang satu adalah Bedi—panggilan Ahmad Biyadi, yang satunya lagi adalah Saiful—yang akun Facebooknya adalah Ipul Juragan Tebu. Ekspedisi kali ini kami akan gowes ke Kali Sira.

Dari Jalan Sumber Ilmu, kami ke barat ke arah Bulupitu. Sesampainya di Bulupitu, kami banting stir ke utara, melewati Desa Bureng, hingga mencapai SD Sumberjaya. Di perempatan setelah SD Sumberjaya, kami ke timur. 

Tak lama setelah itu, kami bertiga masuk ke gang kecil arah selatan. Dari situ, medannya menjadi sulit sebab hanya jalan setapak yang kami lalui, kiri-kanan kebun tebu. Jalannya juga menurun tajam. Kalau saja saat itu sedang hujan, medan ini akan jadi lokasi extreme biking yang sempurna. 

Sesampainya di Kali Sira, saya dan Bedi melihat pemandangan yang mengejutkan. Kali Sira sudah berubah! 

Bibir kali sebelah barat dan timur sudah dilapis dengan beton. Di ujung tepian beton sebelah timur, terdapat bangunan yang tertutup rapat semua pintunya. “Kali Siraku dulu tak begini,” kata Bedi, menirukan lirik lagu dari sebuah iklan.

Hanya saiful yang tak terkejut dengan pemandangan Kali Sira baru ini. Jelas, dia sudah tahu lebih awal ketimbang kami berdua. Lalu, mulailah dia bercerita banyak tentang serba-serbi Kali Sira.

Beton di tepian ini dibangun bersamaan dengan gedung PDAM ini, katanya sambil menunjuk gedung tertutup di samping kami. Gedung ini menutup salah satu sumber di Kali Sira ini. Air yang dilimpahkan luar biasa, mampu menyalurkan air bersih ke Desa Putukrejo dan Bureng sekaligus.

Pohon terbesar di kali ini pun sudah ditebang, kata Saiful lagi sembari menunjuk tempat pohon besar itu dulu bertengger. Saya dan Bedi menoleh ke tempat telunjuk Saiful mengarah. Benar, pohon itu sudah raib! Ingatan kami langsung kembali ke masa lalu, di mana anak-anak meluncur dari akar pohon itu ke dalam kali. Byurrr!!
Pohon itu ditebang karena kasus illegal logging, Saiful melanjutkan—ingatan kami langsung buyar karena suara Saiful. Salah satu aparat Desa Bureng memotongnya secara sepihak. Belum sempat menjualnya, penduduk setempat memperkarakannya ke pihak berwenang. Kembali, sebuah aset desa dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Bukankah pohon-pohon di situ punya andil besar menyerap air sehingga mampu mengalirkan air bersih yang sebegitu melimpah? Lebih parah lagi, tindakan merusak itu dilakukan oleh aparat desa, seorang pemimpin masyarakat!

Saiful menjelaskan banyak hal saat itu terkait Kali Sira. Kami pun mengobrol tentang berbagai hal yang aneh-aneh. Seperti pertanyaan Bedi yang misterius, dari mana asalnya ikan Kelemar (Ikan Tawes Beles, Puntius Balleroides) atau ikan Cetol (Poecilia reticulata), kok di tiap-tiap sumber air selalu ada? Pertanyaan ini belum terjawab secara memuaskan saat itu.

Saiful juga menceritakan hal misterius terkait Kali Sira. Kabarnya, dahulu di sekitar sumber air ini terdapat sebuah candi. Dia mengajukan dua argumen hipotetis: (1) di dalam kali yang jernih, terdapat batu-batu dalam berbagai bentuk. Batu-batu itu adalah reruntuhan dari candi. (2) Di waktu-waktu tertentu, terdapat orang-orang yang bertapa di sekitar kali, asalnya tidak hanya dari Kabupaten Malang saja, bahkan ada yang berasal dari Kabupaten Blitar juga. Nah, ini adalah informasi yang layak ditelusuri lebih lanjut. Saya coba googling, ternyata tak ada informasi satupun mengenai candi di Kali Sira. Kabar ini musti diarsip agar terkumpul lebih banyak bukti.

Begitulah Saiful, bercerita tentang banyak sekali hal. Mulai dari sejarah air di Desa Ganjaran hingga pembudidayaan kangkung di bantaran sungai itu. Saya senang karena Bedi mengajak Saiful berekspedisi gowes saat itu, sebab dia tahu lebih banyak informasi untuk kami serap. Saya beranggapan, ekspedisi gowes itu mustinya seperti itu, selain olahraga juga olah-otak.

Setelah air mineral dan sigaret kami habis, kami semua pulang melalui Desa Putukrejo ke Desa Ganjaran. 

Menutup tulisan ini, satu informasi lagi tentang Putukrejo. Katanya, putukrejo secara harfiah berarti: Putuk = gundukan tanah, Rejo = ramai. Jadi berarti: ‘gundukan tanah tinggi yang ramai penghuni’.[]

Muhammad Hilal
kandidat Master di Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta,
  penggemar sepeda Onthel.

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top