Thursday, May 30, 2013

Tradisi

12:10 AM

Oleh: Muhammad Hilal*

Sejak kurang lebih dua bulan yang lalu, saya menggarap sebuah naskah untuk diketik ulang. Naskah ini adalah salah satu buah tangan dari mendiang Kiai Zainullah Bukhari, salah satu ulama yang menjadi pilar peradaban di Desa Ganjaran, Gondanglegi, Malang. Memang betul, buah karya beliau bukan ini saja. Di tangan saya juga terdapat beberapa naskah lain berupa kitab tentang Ilmu Tauhid dan sebuah naskah yang menjelaskan tentang praktek Khwajahan dalam tarekat. Barangkali terdapat karya lain buah tangan beliau, namun belum tersebar luas karena belum dicetak ulang atau masih berupa manuskrip tulisan tangan.

Tidak banyak yang saya ketahui tentang profil dan kisah hidup dari Kiai Zainullah Bukhari ini. Hal ini sebenarnya cukup disayangkan sebab jika profil dan sejarah hidup beliau terdokumentasikan dengan baik, saya tidak akan ragu sedikit pun, kita akan bisa meneladaninya dalam hidup kita. Terutama buat adik-adik remaja kita yang saat ini diterpa badai informasi yang serba tak terbendung, kisah hidup dan kebijaksanaan mendiang menjadi terasa amat diperlukan sebagai panutan dan tuntunan kehidupan mereka. Orang-orang bilang, anak-anak remaja jaman sekarang telah mengambil panutan yang keliru melalui media-media sosial, sehingga efeknya bisa ditebak, bangsa ini semakin saja terpuruk dari segi kemanusiaan dan keadilan. Secara ekonomi, anak-anak remaja ini semakin sejahtera, dan ke depan pun masih terdapat tanda-tanda bahwa ekonomi secara makro semakin membaik, namun dari segi yang lebih dalam dari itu, tampaknya jalan ke arah sana masih cukup jauh—untuk tidak mengatakan tidak beranjak sama sekali.

Baiklah. Naskah yang sedang saya ketik ini berjudul Qurrah al-Ashfiyâ’ ‘alâ Hidâyah al-Adzkiyâ’. Kitab ini merupakan sebuah syarah (komentar) terhadap sekumpulan nazam yang bernama Hidâyah al-Adzkiyâ’ buah karya Syaikh Zain ad-Dîn ibn ‘Alî ibn Ahmad asy-Syâfi’î al-Kûsyanî al-Malîbârî, yang kesohor dipanggil Al-Malîbârî saja. Kita tahu bersama, Syaikh Al-Malîbârî adalah ulama yang mengarang kitab Fath al-Mu‘în yang amat terkenal di kalangan pesantren itu. Nazam ini berupa penjelasan mengenai tasawuf, disusun dalam bahr kâmil, yakni mengikuti wazn mutafâ‘lun atau lima sukukata diulang enam kali, dan ber-qâfiyah lâ. Sejauh ini, terdapat beberapa ulama yang telah men-syarh kumpulan nazam ini, di antaranya adalah Syaikh Nawawi Banten. Di kemudian hari, barangkali penting pula membandingkan naskah ini dengan karya-karya lain yang men-syarh nazam yang sama demi meneliti keunikan dan karakter masing-masing.

Ini tampaknya mencerminkan model kepengarangan mendiang Kiai Zainullah. Beliau adalah pantulan langsung dari apa oleh sebagian kalangan disebut dengan silent revolution, yakni sebuah upaya perubahan masyarakat yang berlangsung secara diam-diam, tidak berisik, dan tanpa gejolak. Karya-karya mendiang Kiai Zainullah—setidaknya sejauh terdapat di tangan saya—merupakan bahan-bahan untuk beliau ajar untuk para santri-santrinya. Secara tidak langsung beliau memang tidak mengaitkannya dengan isu-isu global semacam isu kapitalisme, konsumerisme, perubahan iklim, terorisme atau lain-lain isu yang menggemparkan itu, namun perlahan tapi pasti jalan yang ditempuh oleh mendiang Kiai Zainullah ini mengarah pada tawaran alternatif bagi kebuntuan sebagian kalangan untuk membendung arus besar tersebut. Selain itu, mendiang Kiai Zainullah tampaknya juga melanjutkan metode yang diwarisi oleh para ulama terdahulu. Tersebarnya karya-karya mereka ke segala penjuru bukanlah melalui proses cetak beribu-ribu eksemplar lalu menyebarkannya melalui para agen. Karya-karya itu tersebar karena diajarkan oleh para murid-muridnya kepada generasi selanjutnya, dan demikian selanjutnya hingga karya itu menyebar dengan demikian luasnya dan menembus batas-batas kebangsaan dan bahasa.

Bagaimana kita memaknai karya beliau ini? Salah satunya mungkin dengan mengaitkannya dengan tema kebangkitan kita sebagai sebuah masyarakat melalui tradisi. Bukan rahasia lagi, saya kira, bahwa kebangkitan sebuah masyarakat tidak mungkin tanpa melalui tradisi. Tak terkecuali masyarakat Eropa, tentu. Kalau kita melihat beberapa orang yang berbicara tentang kemajuan atau kebangkitan, lalu mereka mengait-kaitkannya dengan tradisi, tidak bisa lain itu karena tradisi adalah penopang utama bagi kebangkitan, mercusuar utama bagi laju layar kemajuan. Tapi apa itu tradisi? Menurut Hassan Hanafi adalah al-manqûl ilainâ, al-mafhûm lanâ, al-muwajjih li sulûkinâ. Semua itu adalah warisan masa lalu yang mewarnai segenap keseharian kita. Dengan demikian, setiap proyeksi masa depan, entah itu kemajuan, kebangkitan, masa keemasan, atau apapunlah namanya, adalah tarikan dan hembusan nafas kita di masa kini. Lalu, berhubung masa kini kita tidak bisa lepas dari tradisi sebagaimana digambarkan di muka, maka tidak bisa tidak sikap dan cara pandang yang kita pilih terhadap masa lalu berarti merupakan sebentuk proyeksi terhadap masa depan.

Buah karya mendiang Kiai Zainullah ini adalah satu lempengan dalam lapis-lapis tradisi yang turut serta membingkai dan membungkus keseharian kita. Mengabaikannya dengan begitu saja sama dengan tidak memiliki proyeksi masa depan. Mengindahkannya tapi tanpa memberikan pemaknaan terhadapnya juga tidak lebih baik daripada mengabaikannya, sebab dengan demikian masa depan kita tidak terproyeksi dengan disain yang sesuai menurut kebutuhan masa depan. Rumusan al-muhâfadzah ‘alâ al-qadîm ash-shâlih wa al-akhdz bi al-jadîd al-ashlah sudah menggambarkan bagaimana seharusnya proyeksi itu didisain. Jika kita kaitkan rumusan ini dengan kitab buah karya mendiang Kiai Zainullah, kita lalu jadi lebih tertantang lagi bagaimana sebagai masa lalu karya ini menjadi lebih baik lagi di masa depan, bukan hanya dengan menerbitkannya dengan kertas-kertas dan tinta yang berwarna-warni, namun juga dengan memunculkan lagi karya-karya baru yang bisa menerjemahkan kandungannya dalam kekinian yang lebih praktis.

Hasil refleksi di atas kemudian mendorong kita untuk menangkap secara lebih jernih betapa kekuatan sebuah tradisi mampu menggerakkan masyarakat yang lebih luas. Kebangkitan adalah sebuah proyek besar yang jangkauannya akan terasa bahkan hingga beberapa generasi setelah generasi terkini, sebab tradisi dan proyeksi masa depan ini menyentuh hampir seluruh aspek masyarakat: pendidikan, politik, budaya, ekonomi, keagamaan-spiritual, kelembagaan, relasi antar dan intra personal, dan sederet panjang aspek lain.


Kembali ke soal naskah kitab buah karya mendiang Kiai Zainullah di atas, sengaja saya tidak memaparkan isi darinya secara panjang lebar sebab akan lebih baik jika para pembaca sekalian mendapatkannya langsung setelah kitab ini selesai diketik ulang.[]

Muhammad Hilal 
mahasiswa pascasarjana Filsafat UGM

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

4 komentar:

  1. sebelum membahas jauh tentang isi tulisan ini, hemat penulis sendiri, apa perbedaan antara 'urf, 'adah, dan gholib??

    ReplyDelete
  2. maksud tradisi di sini adalah 'turats'.
    Terima kasih atas komentarnya ;)

    ReplyDelete
  3. saya rasa sangat tepat beliau mensyarahi kitab tersebut, krn beliau adlh seorang mursyid thariqah. tntg Malibari, kalau bagi mahasiswa Jogja dibaca Malioboro (teks sama klu tidak ada harakat....)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha,
      mirip 'amrithi yang dibaca umaryoto :D

      Delete

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top