Sunday, March 17, 2013

Membaca Trend Konversi ke Islam Kalangan Perempuan Terdidik di Barat

7:01 AM


Oleh: Muhammad Adib*


[Judul: Women Embracing Islam: Gender and Conversion in the West | Editor: Karin van Nieuwkerk (Ed.) | Cetakan: ke-I | Penerbit: Texas University Press | Tahun terbit: 2006]

Buku setebal 309 halaman ini merupakan symposium proceedings dari sebuah simposium bertajuk “Gender and Convertion to Islam” yang diselenggarakan oleh International Institute for Studi of Islam in the Modern World (ISIM) Leiden University Belanda pada tanggal 16-17 Mei 2003. Simposium tersebut diselenggarakan sebagai respon akademik terhadap meningkatnya jumlah warga pribumi Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa yang memeluk agama Islam, terutama pascatragedi serangan WTC 11 September 2001. Sejumlah media di Barat melaporkan bahwa jumlah warga pribumi yang memeluk agama Islam sepanjang satu tahun pascatragedi itu mencapai angka ratusan ribu. Uniknya, sebagian besar di antaranya adalah kaum perempuan dari kalangan terdidik (educated women)—dengan rasio mencapai 4:1. Beberapa di antaranya bahkan adalah nama-nama yang terkenal, seperti Lauren Booth (adik ipar Tony Blair), Kristane Backer (mantan presenter MTV di London), Sara Bokker (mantan artis, model dan instruktur fitness terkenal), dan Camilla Leyland (guru yoga terkenal di Inggris). Sisi unik inilah yang dijadikan sebagai fokus kajian dalam simposium tersebut berikut alasan penetapan “gender and convertion to Islam” sebagai tajuknya.[1]

Secara umum, buku yang memuat 12 makalah—10 di antaranya ditulis oleh penulis perempuan—ini memperbincangkan fenomena gelombang konversi agama kalangan perempuan sebagai sebuah fakta yang mengejutkan sekaligus menarik, karena kontradiktif dengan dominannya label negatif terhadap Islam di dunia Barat. Di satu sisi, masyarakat Barat cenderung melihat Islam sebagai agama teroris, kejam, anti-Barat, anti-demokrasi dan diskriminatif terhadap perempuan. Namun, di sisi lain, sejumlah besar kaum perempuan di Barat justru tertarik dengan ajaran Islam dan menjadi Muslim.

Ragam pertanyaan filosofis yang perlu dijawab—seperti dinyatakan oleh Karin van Nieuwkerk—adalah: (1) “motivasi dan latar belakang apa yang mendorong kaum perempuan di Barat untuk memeluk Islam?”, (2) “Islam seperti apa yang mereka peluk?”, (3) “bagaimana proses yang mereka lalui dalam memeluk Islam?”, (4) “bagaimana mereka beraktualisasikan diri dengan identitas baru mereka?”, (5) “apa reaksi dan respon masyarakat sekitar mereka?”, (6) “apa peran mereka di masyarakat secara umum setelah memeluk Islam?”, dan (7) “apa kontribusi mereka bagi wacana gender dan Islam?”. Menurut van Nieuwkerk, pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dijawab, mengingat konversi agama bukan hanya sebuah pengalaman sesaat semata, melainkan sebuah proses panjang transformasi budaya, sosial dan keagamaan sekaligus. Buku ini adalah salah satu upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi melalui kajian empiris dengan memperbandingkan fenomena yang terjadi di Eropa, Amerika Serikat dan Afrika Selatan serta kajian filosofis dalam kaitannya dengan wacana gender dan feminisme.[2]

Beberapa ulasan yang menarik dari buku ini terkait dengan fenomena konversi ke Islam sejumlah besar perempuan terdidik di Barat adalah sebagai berikut:

1.    Kehidupan sosial, politik dan budaya di Barat yang sekuler serta menjunjung tinggi kebebasan individu dan HAM telah berperan cukup penting bagi privatisasi agama. Bagi mereka, beragama ataupun tidak beragama, termasuk di dalamnya beralih agama, telah menjadi pilihan perorangan (individual choice) yang dijamin keberadaannya. Itulah sebabnya, bisa dipahami mengapa jumlah mu’allaf dari kalangan warga pribumi di Barat semakin meningkat dari tahun ke tahun.[3]

2.    Konversi agama para mu’allaf dari warga pribumi di Barat bisa dipilah menjadi dua tipe, yaitu (a) tipe konversi relasional (relational convertion), yakni konversi yang bertumpu kepada adanya relasi antara sang mu’allaf dan seorang atau komunitas Muslim tertentu, semisal melalui hubungan pernikahan, perkawanan, dan sebagainya, dan (b) tipe konversi rasional (rational convertion), yakni konversi melalui proses kontemplasi intelektual, baik dengan cara berdiskusi dengan orang tertentu ataupun dengan membaca buku-buku yang memuat ajaran Islam, terutama Kitab Suci al-Qur’an dan buku-buku mistisisme Islam. Hasil berbagai survey mengindikasikan bahwa kaum perempuan mu’allaf di Barat rata-rata melakukan konversi tipe kedua ini. Hal ini sekaligus menepis tuduhan kalangan anti-Islam bahwa kaum perempuan di Barat yang memeluk agama Islam tidak lain dan tidak bukan semata-mata dipengaruhi oleh hubungan relasional mereka dengan seorang atau sekelompok Muslim tertentu.[4]

3.    Mistisisme, atau biasanya disebut sebagai “intelektualitas spiritual” (spiritual intellectuality), terbukti berperan sangat penting sebagai salah satu ajaran Islam yang mengundang ketertarikan para perempuan mu’allaf di Barat untuk beralih agama menjadi Muslim. Buku-buku mistisisme, yang akhir-akhir ini menjadi bahan bacaan populer di Barat, telah berhasil menampilkan dimensi yang berbeda dari ajaran Islam di tengah-tengah labelisasi negatif yang selama ini disematkan kepadanya. Ajaran Islam tentang cinta kasih, kejujuran, kedisiplinan, keteguhan menepati janji, etos kerja dan sebagainya ternyata telah memberi mereka semacam wawasan baru tentang bagaimana seorang manusia beragama dan mengaktualisasikan ajaran agamanya ke dalam realitas kehidupan.[5]

4.    Terdapat tiga isu penting yang mengemuka terkait dengan kehidupan sosial para perempuan mu’allaf di Barat pascakonversi agama mereka. Tiga isu tersebut adalah sebagai berikut: (a) perubahan identitas agama juga berimplikasi kepada perubahan identitas sosial, gender dan rasionalitas, (b) ragam identitas baru ini berdampak pula kepada perubahan penampilan, sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan keseharian mereka, dan (c) perubahan tersebut pada gilirannya berdampak pula kepada pola relasi mereka dengan komunitas Muslim lainnya pada khusunya dan masyarakat Barat yang mayoritas non-Muslim pada umumnya. Di satu sisi, identitas baru mereka memunculkan risiko seperti perubahan perlakuan balik terutama dari komunitas non-Muslim. Namun, di sisi lain, kehidupan sekuler di Barat yang sangat mengedepankan kebebasan individu memberikan ruang yang relatif besar bagi mereka untuk “how to be a Muslim in religion and to be a Western in culture”.[6]

Pada akhirnya, keseluruhan tulisan dalam buku ini sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa meski dilatarbelakangi oleh faktor-faktor yang beragam dan kompleks, keputusan mereka  memeluk Islam rata-rata berdasarkan motivasi yang sama, yaitu (1) ketertarikan kepada dimensi spiritual-sufistik (moral dan etika) dan rasionalitas ajaran Islam, dan (2) rasa “muak” terhadap budaya Barat yang sekuler dan serba-bebas.[7] Yang jelas, trend konversi ke Islam yang semakin meluas di Barat dewasa ini telah menjadi titik balik yang mementahkan labelisasi negatif terhadap Islam di dunia Barat selama ini. Selain itu, trend tersebut memaksa sejumlah pemuka agama Kristen dan Katolik di Barat untuk melakukan evaluasi diri secara radikal dan komprehensif terkait dengan sejauh mana agama Kristen dan Katolik mampu memenuhu kebutuhan spiritual para penganutnya. Piero Gheddo—juru bicara Vatikan, misalnya, bahkan menegaskan sebuah “kekhawatiran” bahwa jika Katolik tidak berbenah diri, sementara trend konversi ke Islam semakin tidak terbendung, maka pada beberapa abad mendatang, Islam akan menjadi agama mayoritas di Eropa.[8]


Wa allāh a‘lam bi al-shawāb.

Yogyakarta, 13 Februari 2013.

Muhammad Adib
adalah Dosen Tetap STAI Al-Qolam Gondanglegi Malang, peserta Program Beasiswa Studi (BS) Program Doktor (S3) Kementerian Agama RI Angkatan Tahun 2012 di Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.




[1] Https://www.openaccess.leidenuniv.nl, artikel “Gender and Conversion to Islam Symposium” akses tanggal 11 Februari 2013).
[2] Karin van Nieuwkerk, “Gender and Conversion to Islam in the West”, dalam van Nieuwkerk (Ed.), Women., halaman 2.
[3] Ibid., halaman 2-3.
[4] Stefano Allievi, “The Shifting Significance of the Halal/Haram Frontier: Narratives on the Hijab and Other Issues”, dalam van Nieuwkerk (Ed.), Women., halaman 123-124.
[5] Haifaa Jawad, “Female Conversion to Islam: The Sufi Paradigm”, dalam van Nieuwkerk (Ed.), Women., halaman 58.
[6] Nicole Bourque, “How Deborah Became Aisha: The Conversion Process and the Creation of Female Muslim Identity”, dalam van Nieuwkerk (Ed.), Women., halaman 233.
[7] Karin van Nieuwkerk, “Gender and Conversion to Islam in the West”, dalam van Nieuwkerk (Ed.), Women., halaman 8.
[8] Http://www.telegraph.co.uk, artikel “Muslims will become majority in Europe, senior Vatican official warns” (akses tanggal 11 Februari 2013).

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top