Thursday, December 6, 2012

Etimologi

9:54 AM


Oleh: Muhammad Hilal

Ada seorang kawan yang cukup mahir berbahasa Arab. Dia menghabiskan masa kecilnya di pesantren, lalu sekolah tinggi di Mesir. Bisa dibilang, sehari-harinya adalah berbahasa Arab, pasif ataupun aktif.

Kami tidak sering bertemu, hanya di acara kumpul-kumpul tertentu, di warung kopi, di acara seminar atau workshop, di sebuah resepsi pernikahan pas sama-sama diundang, atau di acara pertunjukan budaya akhir pekan. Selebihnya, kami melakukan kesibukan sendiri-sendiri.

Pada saat bertemu dan berkumpul-kumpul, kawan satu ini kadang menunjukkan kemampuannya berbahasa Arab. Bukan kemampuan cas-cis-cus berbahasa Arab dengan fasih, bukan pula membaca teks-teks bahasa Arab selancar membaca koran dalam negeri, melainkan hal-hal unik dari bahasa Timur Tengah ini. Misalnya dia bercerita tentang etimologi bahasa Arab.

Kawan ini bilang bahwa Bahasa Arab memiliki beberapa kosakata yang berasal dari satu akar kata. Beberapa kata yang demikian mesti memiliki kaitan tertentu. Misal, dia menyebut sarîr yang berarti “ranjang”, kata ini seakar kata dengan surûr (bahagia) dan sir (rahasia) sekaligus. Kata kawan saya itu, meski ketiga kata ini memiliki pengertian yang berbeda-beda, namun karena memiliki akar yang sama, mereka sama-sama memiliki hubungan satu sama lain. Ranjang adalah tempat untuk tidur, semua orang tahu itu. Namun, ranjang berbeda dari tempat tidur lain (orang bisa saja tidur di atas sofa, di atas karpet masjid, di kolong jembatan, di atas kendaraan, atau di tempat lain) sebab pada saat yang sama ia mengandung pengertian “bahagia” dan “rahasia” sekaligus. Lihat saja, misalnya, pada saat sebuah pasangan anyar melakukan malam pertama yang sakral, di atas ‘ranjang’ mereka berdua mencicipi ‘bahagia’ dengan cara yang amat ‘rahasia’.

Di kesempatan lain, dia juga menyebut sebuah akar kata yang memiliki kata bentukan yang amat banyak, namun dia menjelaskan dengan fasih bahwa semua itu tetap memiliki hubungan. Akar kata “j-n-n” membentuk banyak kata bentukan (dia menyebut musytâq untuk kata bentukan) yang macam-macam: jannah (taman), jinn (jin), junûn (gila), junnah (benteng), jinân (hati), janîn (embrio).

Jadi, bagaimana kawan saya itu menunjukkan hubungan dari semua kata itu? Dia bilang, akar kata “j-n-n” berarti menutupi. Dari sini dia menjelaskan segalanya, merunutnya satu persatu.

Orang Arab menyebut taman dengan jannah sebab taman menutupi sinar matahari. Kalau kamu berdiri di tengah-tengah taman yang rindang, katanya, kau tidak bisa melihat matahari. Taman ‘menutupi’ penglihatanmu dari sinar matahari.

Bahasa Indonesia menyerap kata ‘jin’ dari Bahasa Arab, tentu saja. Jin adalah makhluk penghuni bumi dan dianggap memiliki akal pikiran, sama seperti manusia. Makhluk ini tidak disebut manusia sebab ia tidak bisa dilihat oleh manusia. Mungkin saja makhluk ini ada di sekitar kita, minum kopi juga ketika kita ngopi, namun ada sesuatu yang  ‘menutupi’ penglihatan kita dari makhluk ini, sehingga kita tidak bisa melihatnya.

Orang Arab menyebut orang gila dengan sebutan majnûn, kata bendanya junûn. Mereka menyebutnya demikian karena akal sehatnya tidak bisa dipakai. Ada sesuatu yang ‘menutupi’ aksesnya untuk menggunakan akal sehatnya secara benar sehingga tindakannya menjadi tidak karuan dan tak bisa dimengerti.

Lalu, benteng ditunjuk dengan kata junnah. Ini mudah kita mengerti. Benteng berfungsi untuk menghadang musuh menyerang. Benteng ‘menutupi’ serbuan musuh ke kota di baliknya.

Hati juga ditunjuk dengan kata jinân, ini juga mudah dipahami. Hati adalah salah satu unsur yang paling misterius dari manusia. Kebanyakan manusia tidak bisa memahami perangai hati, semacam ada sesuatu yang ‘menutupi’ pemahaman kita darinya. Hati juga ditunjuk dengan kata qalb “li taqallubihî min hâl ilâ hâl ukhrâ”, kata pepatah Arab, karena hati amat cepat berubah wataknya, tidak konsisten. Bisa jadi hati sekarang bahagia, tak berapa lama kemudian lalu berubah jadi sedih, marah, haru, risau, takut, lalu tak lama kemudian jadi girang lagi. Mungkin, perubahan cepat inilah yang membikin hati tak mudah dipahami, dan karena karena tidak mudah dipahami lantas ia ditunjuk dengan sebutan jinân.

Janin sebenarnya adalah manusia juga, hanya saja ia adalah manusia secara potensial. Artinya, ia masih berupa calon manusia. Dengan proses biologis yang ajaib, pada saatnya nanti janin akan menjadi manusia utuh. Menusia potensial ini, kata kawan saya itu, disebut janîn oleh orang Arab karena keutuhannya masih ‘tertutupi’.

“Perempuan” disebut mar’ah oleh orang Arab, kawan saya itu tiba-tiba mengganti topik, dari akar kata “r-‘-y” yang berarti “melihat’. Kata mir’ah (cermin) juga dari akar kata yang sama. Dengan demikian, kita bisa meraba-raba hubungannya.
Kata mar’ah menyiratkan perangai lelaki dan perempuan sekaligus, lanjut kawan saya itu. Perempuan disebut mar’ah sebab mereka senang sekali melihat dirinya dalam cermin, itu sebabnya mirip sekali sebutan mar’ah dengan mir’ah. Sedang bagaimana lelaki melihat perempuan, entah dengan sikap genit, intimidatif, hangat, interogatif, menggurui, inferior, ataupun lain-lain, adalah cerminan bagi sifatnya. Singkat kata, kata mar’ah adalah mir’ah bagi kaum perempuan dan laki-laki sekaligus.

Ada yang bilang bahwa kata mar’ah berasal dari akar kata “m-r-‘” yang berarti berguna atau lezat. Tapi, kawan saya itu tidak melanjutkan ceritanya sebab kami sama-sama harus segera pulang ke rumah masing-masing.

Di jalan pulang, saya teringat dengan sebutan “laki-laki” bagi orang Arab: rajul. 
Kata ini seakar dengan rijl (kaki). Kaki berfungsi untuk berjalan atau menendang. Apakah ini mencerminkan sifat kaum lelaki yang suka berjalan-jalan atau suka kekerasan? Mestinya jawabannya tidak sesederhana itu dan barangkali kawan saya itu bisa menjelaskannya dengan bagus. Tapi mungkin lain kali akan saya tanyakan padanya, pada saat kami berjumpa kembali.[]

Muhammad Hilal adalah Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Filsafat UGM.

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top